Menu

Mode Gelap
Alfamart Peduli Kreativitas Anak Sejak Dini Debt Collector Dilarang Gunakan Kekerasan dalam Penagihan Hutang Konsumen Kebersamaan dalam Dialog Lintas Iman, Wujud Toleransi Beragama di Sulut KPK Buka Kelas Pemuda Anti Korupsi Tahun 2022 di Sulut Hadirkan DJ Ribka, HUT ke-8 “Good Day Club” Bakal Spektakuler

Daerah · 12 Nov 2021 20:28 WITA ·

Merawale, Warisan Luhur Budaya Minahasa di Bumi Ranomea


 Merawale, Warisan Luhur Budaya Minahasa di Bumi Ranomea Perbesar

IRNEWS, KULTURRingan sama dijinjing, berat sama dipikul. Inilah pribahasa Indonesia yang dapat menggambarkan salah satu karakter ke-minahasa-an lewat sebuah tradisi Merawale. —

Eksistensi nilai-nilai luhur budaya Minahasa yang terus tergerus oleh zaman, dan semakin terkikis oleh globalisasi yang kian mengaburkan identitas pribumi, ternyata tidak sepenuhnya terlekang di tengah kehidupan masyarakat.

Perkembangan teknologi mutakhir yang tak ter-elakan seiring putaran roda zaman, terus melahirkan efisiensi kehidupan dan tentu menghantar jauh dari cara hidup yang lama.

Meski begitu, kemudahan-kemudahan yang dihasilkan teknologi, merupakan gambaran kehidupan manusia sebagai makhluk kreatif dan berkarya, yang ber-adab, berdaulat dan tentunya bertranformasi.

Teknologi dan kultur, sejatinya hanya tentang perubahan wujud perangkat. Eksistensi kesejatian identitas dan esensi tata kehidupan luhur yang diwariskan oleh para leluhur patutnya dipertahankan.

Manusia yang merupakan makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Manusia terus berkembang dengan peradabannya, peradabannya berjalan dengan kearifan kehidupan sosialnya.

Di Indonesia sendiri, sebuah tradisi sosial kemasyarakatan tersebar di segala etnis penjuru negeri. Dengan gaya, cara, dan polanya masing-masing, filosofi kehidupan disimbolkan dengan segala bentuknya.

Halnya di bumi Minahasa, Sulawesi Utara, berbagai tradisi dan kearifan lokalnya dilekatkan dengan pesan-pesan moral sebagai tata kehidupan yang menggerakan per-adab-annya.

Salah satunya tradisi Marawale. Sebuah tradisi gotong royong atau kerja sama dalam hal memindahkan sebuah rumah. Hal itu sesuai etimologi dari kata Minahasa yang berarti Menjadi Satu, tergambar lewat cara dalam tradisi merawale ini.

Warga Ranomea dalam kegiatan Merawale tahun 2009 | sumber 📷 PISOK

Dalam tradisi ini, masyarakat meremuk bersama membagi tenaganya, biasanya kegiatan ini dilakukan untuk memindahkan sebuah bangunan atau rumah kayu.

Rumah yang dipindahkan itu tanpa harus dibongkar, namun secara utuh digotong secara bersama-sama.

Kebersamaan dalam kehidupan sosial di Minahasa, salah satunya diwujudkan dengan tradisi merawale ini.

Baik anak-anak, remaja, pemuda maupun orang tua terlibat dalam tradisi ini tanpa memandang status sosial.

Merawale biasanya dikomandoi oleh seseorang agar rumah yang akan dipindahkan dapat diangkat secara lebih mudah sesuai aba-aba yang diperintahkan.

Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Minahasa, namun sekarang ini sudah jarang ditemui lagi.

Meski begitu, tradisi yang belakangan ini mulai pudar oleh perkembangan teknologi dan segala inovasi, ternyata tidak sepenuhnya terlekang di tengah kehidupan masyarakat.

Sampai saat ini, tradisi merawale ternyata masih dikaryakan oleh sebagian masyarakat.

Baru-baru ini, sepekan yang lalu, pada Kamis (15/07/2021) terlihat di Kelurahan Ranomea, Kecamatan Amurang timur, Minahasa Selatan, masih melakukannya.

Michael Repi, akrab disapa Veral, salah satu warga Kelurahan Ranomea yang menyaksikan kegiatan tersebut, mengatakan bahwa bangunan tersebut milik seorang warga setempat.

“Itu bangunan kantin, milik Bapak Oloan Keluarga Polii-Suot. Ini tradisi turun temurun di Ranomea yang masih dipertahankan, cuma disini disebut pindah rumah,” ujar Veral.

Sementara, salah satu pengamat sejarah dan budaya yang merupakan ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) Doktor Denni Pinontoan, menjelaskan arti dari kata Merawale itu.

“Jadi Merawale itu terdiri dari dua kata, Mera’ dan Wale. Mera yang berarti Pindah, dan Wale itu artinya Rumah,” ujar Denni Pinontoan pada Minggu (19/07/2021) lalu.

Ia mengatakan bahwa tradisi ini dari dulunya sudah ada di tengah kehidupan masyarakat Minahasa, yang memiliki nilai gotong royong.

“Pindah rumah ini biasanya dilakukan kepada para kelompok taranak (keluarga) bersama taranak lainnya. Dulu yang dipindahkan, rumah yang bangunannya punya ukuran yang sangat besar,” ucapnya.

“Kegiatan itu juga dikonsep dengan nilai mapalus, yaitu gotong royong atau kerja sama, yang filosofinya sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Minahasa,” tandas Dosen Teologi itu. (*)

 

*** Tulisan ini pernah diterbitkan di media makasiow.com pada edisi 07 Juli 2021 merawale-satu-warisan-luhur-budaya-minahasa-di-bumi-ranomea.

(Judy Tarek)

 

 

Artikel ini telah dibaca 104 kali

badge-check

Tim

Baca Lainnya

Mashuri Tutup LT-III Regu Penggalang Kwarcab Gerakan Pramuka Merangin

11 November 2022 - 12:39 WITA

Merangin Peringati Hari Pahlawan 2022

11 November 2022 - 12:33 WITA

Longsor, Wabup Langsung Turun Sampai Jalan Kembali Normal

11 November 2022 - 12:29 WITA

Nilwan Yahya Optimis, Merangin Raih Camat Teladan

11 November 2022 - 12:25 WITA

Kebersamaan dalam Dialog Lintas Iman, Wujud Toleransi Beragama di Sulut

23 Oktober 2022 - 10:52 WITA

KPK Buka Kelas Pemuda Anti Korupsi Tahun 2022 di Sulut

26 September 2022 - 17:30 WITA

Trending di Daerah