Kultur
Merawale, Warisan Luhur Budaya Minahasa di Bumi Ranomea

IRNEWS, KULTUR — Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Inilah pribahasa Indonesia yang dapat menggambarkan salah satu karakter ke-minahasa-an lewat sebuah tradisi Merawale. —
Eksistensi nilai-nilai luhur budaya Minahasa yang terus tergerus oleh zaman, dan semakin terkikis oleh globalisasi yang kian mengaburkan identitas pribumi, ternyata tidak sepenuhnya terlekang di tengah kehidupan masyarakat.
Perkembangan teknologi mutakhir yang tak ter-elakan seiring putaran roda zaman, terus melahirkan efisiensi kehidupan dan tentu menghantar jauh dari cara hidup yang lama.
Meski begitu, kemudahan-kemudahan yang dihasilkan teknologi, merupakan gambaran kehidupan manusia sebagai makhluk kreatif dan berkarya, yang ber-adab, berdaulat dan tentunya bertranformasi.
Teknologi dan kultur, sejatinya hanya tentang perubahan wujud perangkat. Eksistensi kesejatian identitas dan esensi tata kehidupan luhur yang diwariskan oleh para leluhur patutnya dipertahankan.
Manusia yang merupakan makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya. Manusia terus berkembang dengan peradabannya, peradabannya berjalan dengan kearifan kehidupan sosialnya.
Di Indonesia sendiri, sebuah tradisi sosial kemasyarakatan tersebar di segala etnis penjuru negeri. Dengan gaya, cara, dan polanya masing-masing, filosofi kehidupan disimbolkan dengan segala bentuknya.
Halnya di bumi Minahasa, Sulawesi Utara, berbagai tradisi dan kearifan lokalnya dilekatkan dengan pesan-pesan moral sebagai tata kehidupan yang menggerakan per-adab-annya.
Salah satunya tradisi Marawale. Sebuah tradisi gotong royong atau kerja sama dalam hal memindahkan sebuah rumah. Hal itu sesuai etimologi dari kata Minahasa yang berarti Menjadi Satu, tergambar lewat cara dalam tradisi merawale ini.

Warga Ranomea dalam kegiatan Merawale tahun 2009 | sumber 📷 PISOK
Dalam tradisi ini, masyarakat meremuk bersama membagi tenaganya, biasanya kegiatan ini dilakukan untuk memindahkan sebuah bangunan atau rumah kayu.
Rumah yang dipindahkan itu tanpa harus dibongkar, namun secara utuh digotong secara bersama-sama.
Kebersamaan dalam kehidupan sosial di Minahasa, salah satunya diwujudkan dengan tradisi merawale ini.
Baik anak-anak, remaja, pemuda maupun orang tua terlibat dalam tradisi ini tanpa memandang status sosial.
Merawale biasanya dikomandoi oleh seseorang agar rumah yang akan dipindahkan dapat diangkat secara lebih mudah sesuai aba-aba yang diperintahkan.
Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Minahasa, namun sekarang ini sudah jarang ditemui lagi.
Meski begitu, tradisi yang belakangan ini mulai pudar oleh perkembangan teknologi dan segala inovasi, ternyata tidak sepenuhnya terlekang di tengah kehidupan masyarakat.
Sampai saat ini, tradisi merawale ternyata masih dikaryakan oleh sebagian masyarakat.
Baru-baru ini, sepekan yang lalu, pada Kamis (15/07/2021) terlihat di Kelurahan Ranomea, Kecamatan Amurang timur, Minahasa Selatan, masih melakukannya.
Michael Repi, akrab disapa Veral, salah satu warga Kelurahan Ranomea yang menyaksikan kegiatan tersebut, mengatakan bahwa bangunan tersebut milik seorang warga setempat.
“Itu bangunan kantin, milik Bapak Oloan Keluarga Polii-Suot. Ini tradisi turun temurun di Ranomea yang masih dipertahankan, cuma disini disebut pindah rumah,” ujar Veral.
Sementara, salah satu pengamat sejarah dan budaya yang merupakan ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) Doktor Denni Pinontoan, menjelaskan arti dari kata Merawale itu.
“Jadi Merawale itu terdiri dari dua kata, Mera’ dan Wale. Mera yang berarti Pindah, dan Wale itu artinya Rumah,” ujar Denni Pinontoan pada Minggu (19/07/2021) lalu.
Ia mengatakan bahwa tradisi ini dari dulunya sudah ada di tengah kehidupan masyarakat Minahasa, yang memiliki nilai gotong royong.
“Pindah rumah ini biasanya dilakukan kepada para kelompok taranak (keluarga) bersama taranak lainnya. Dulu yang dipindahkan, rumah yang bangunannya punya ukuran yang sangat besar,” ucapnya.
“Kegiatan itu juga dikonsep dengan nilai mapalus, yaitu gotong royong atau kerja sama, yang filosofinya sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Minahasa,” tandas Dosen Teologi itu. (*)
*** Tulisan ini pernah diterbitkan di media makasiow.com pada edisi 07 Juli 2021 merawale-satu-warisan-luhur-budaya-minahasa-di-bumi-ranomea.
(Judy Tarek)
Kultur
Ekspresi Iman Hari Pengucapan Syukur, Ruang Gereja GMIM Koinonia Ranomea Penuh Hasil Tani


Amurang, inforakyatnews.com – Dua pohon musa sinensis (pisang raja) berdiri di depan pintu gerbang gedung gereja, lengkap dengan tandan buahnya.
Di dalam ruang gereja, berdiri juga 4 pohon lainnya. Dua pohon berdiri di sisi kanan dan kiri. Dua pohon lainnya terpampang berdiri di area mimbar, seolah mendampingi dan membuat teduh Sang Penyampai Injil Kristus (Pendeta, -red).
Di depan mimbar, 3 daun livistona chinensis (woka) terbuka lebar. Berdiri tiga sisi. Di sisi tengah, berbagai macam hasil bumi diletakan. Kelapa, pepaya, ubi, jagung, hingga cengkih dan lainnya, menjadi simbol kolekta, sebagai syukur atas berkat dan rahmat Allah di tanah jemaat. Dua woka di sisi kiri dan kanan, menempel di belakang kotak kayu, tempat jemaat membawah sedekah.
Pemandangan ruang gereja itu menambah esensi hari pengucapan syukur yang saat ini dilaksanakan di Kabupaten Minahasa Selatan, Minggu 14 Juli 2024.
Diketahui, dekorasi ruang gereja dalam rangka hari pengucapan syukur ini merupakan hasil kreativitas pemuda dan remaja jemaat GMIM Koinonia Ranomea itu sendiri.
Ketua Komisi Pemuda GMIM Koinonia Ranomea, Penatua Parte Polii kepada media ini mengatakan, dekorasi tersebut dalam rangka memaknai hari pengucapan syukur.
Parte bilang, maksud dari wujud itu ialah menampilkan bahwa gereja yang mengucap syukur atas setiap pemeliharaan Tuhan dan setiap berkat Tuhan yang diberi kepada kita melalui setiap pekerjaaan jemaat yang ada.
“Hasil pekerjaan itu torang bawa di gereja untuk dipersembahkan kepada Tuhan, dan untuk dekorasi itu torang ambe dari hasil-hasil yang Tuhan kase dari torang pe usaha,” ujar Penatua Pemuda GMIM Koinonia Ranomea yang juga sebagai Ketua Pemuda Wilayah Amurang III itu.
Seperti diketahui, hari pengucapan syukur merupakan tradisi orang-orang Minahasa yang diwarisi turun-temurun dari masa lampau.
Tradisi itu merupakan wujud ekspresi iman kepada Sang Khalik, Sang pemilik sumber kehidupan atas berkat dan anugerahnya. Tradisi ini kemudian bertransformasi mengikuti konteks zaman.
Dr Ivan Kaunang SS MHum menjelaskan, hari pengucapan syukur diadopsi dari tradisi Rumages yang kemudian mengalami trasformasi di kemudian hari, terutama ketika kekristenan masuk ke tanah Minahasa.
“Pengucapan syukur itu bertrasformasi dari tradisi tua Minahasa, dan menjadi lebih kental ketika Kristen masuk. Dari perspektif kebudayaan, tradisi itu memang mengikuti perkembangan zaman. Beda generasi, beda juga wujud ekspresinya,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi yang juga adalah Ketua Kearsipan Sinode GMIM itu.
Kaunang menilai, dalam proses bertrasformasi ini, ada sesuatu yang hilang dari perayaan pengucapan syukur itu.
“Budaya leluri atau tutur itu terputus sehingga makna sesungguhnya dari pengucapan syukur banyak yang tidak dipahami oleh generasi kemudian. Persoalan lain, karena terjadi interaksi, pemerintah mulai ambil alih perayaan ini. Dahulu itu dilaksanakan sesuai musim panen tapi sekarang, itu tinggal diatur pemerintah dengan gereja,” ujar Kaunang.
Di sisi lain, Dosen Sosiologi Agama di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado Dr. Denni Pinontoan MTh, beberapa waktu lalu menjelaskan, Pengucapan Syukur adalah tradisi kultural keagamaan Minahasa. Ia mengatakan, itu adalah cara orang-orang Minahasa secara kultural menyatakan syukurnya kepada Yang Ilahi.
“Kalau dahulu terutama berkaitan dengan panen padi atau hasil pertanian lainnya. Sekarang tentu sudah meluas yaitu sebagai syukur atas penyertaan dan berkat Tuhan dalam banyak hal,” ujar Denni Pinontoan.
Kemudian, lanjutnya, sebagai tradisi kultural keagamaan maka yang merayakannya siapa saja orang di tanah Minahasa. Dengan demikian, perayaannya tidak harus eksklusif satu gereja saja tapi semua orang di Tanah Minahasa yang masih menjalani tradisi itu.
“Perayaan pangucapan syukur juga merupakan tradisi kultural keagamaan sebagai wadah memperkuat hubungan kekeluargaan, kekerabatan dan solidaritas dengan saling baku pesiar antara orang-orang dari satu tempat ke tempat yang lain,” terangnya.
Sementara itu, Budayawan asal Sonder, Fredy Wowor beberapa waktu lalu menegaskan, tradisi pengucapan syukur sebenarnya terkait dengan cara berpikir tou (orang) Minahasa.
“Aktivitas itu bagi tou Minahasa merupakan siklus hidup. Di siklus ini ada fase menanam benih, memelihara sampai panen. Disaat panen, mereka mengucap syukur, sekaligus sebagai fase awal untuk menanam yang baru. Ketika ada interaksi dengan Barat, kalau dalam konteks Sonder, di masa itu penginjil Graafland mulai mentransformasikan tradisi rumages ke tradisi Kristen, 1800-an akhir. Ketika sudah ada gereja, mereka mulai mengarahkan umat membawa persembahan syukur itu ke gereja,” papar akademisi Fakultas Ilmu Budaya Unsrat itu.
Ia juga menjelaskan, tradisi pengucapan syukur sangat berhubungan dengan tarian Maengket.
“Di saat pengucapan syukur, ada usaha pagelaran seni budaya seperti Maengket. Pengucapan syukur memang identik dengan ekspresi bahwa mereka diberkati, sebagai wujud syukur kepada Tuhan, karena itu mereka mewujudkan pemberian yang terbaik bagi Tuhan. Ini sebenarnya mau menjelaskan bagaimana tou Minahasa sejak zaman dulu, sangat menyatu dengan alam dan menyatu dengan Tuhan,” tandasnya. (jud)
Budaya
Hari Raya Ketupat di Kelurahan Jawa-Tondano, Bupati Kumendong Dan Istri Bersilaturahmi Dengan Tokoh Agama Muslim


Bupati Minahasa Jemmy S. Kumendong Dan Istri Bersilaturahmi Dengan Tokoh Agama Muslim di Kampung Jaton.
MINAHASA, inforakyatnews.com
– Momen Hari Raya Ketupat di Minahasa khususnya warga di Kelurahan kampung Jawa Tondano, menjadi tradisi seusai hari lebaran atau hari idul fitri, dimana disaat hari raya ketupat ini menjadi hari bersilaturahmi baik warga muslim begitupula warga non-muslim untuk saling bersalaman.
Tak terkecuali dengan menjalin keakraban antar umat beragama, Penjabat Bupati Minahasa Dr. Jemmy Stani kumendong, M.Si bersama Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa, Ny. Djenneke Kumendong- Onibala, M.Si, MSA mengunjungi salah satu tokoh agama umat muslim di kediamannya, Rabu, (17/4/2024)
Kunjungan Penjabat Bupati Minahasa disambut baik tokoh agama umat muslim di Kelurahan Kampung Jawa, Tondano Utara dalam rangka Silaturahmi di hari lebaran ketupat.
Hari Raya Lebaran Ketupat tersebut adalah sebuah tradisi peringatan hari raya Idul Fitri di Indonesia. Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat biasanya dilakasakan pada hari kedelapan setelah hari raya Idul Fitri, yang artinya pada 8 Syawal ditandai dengan memakan Ketupat.
Bupati Minahasa, Jemmy Kumendong dalam kesempatannya menyampaikan selamat merayakan hari raya ketupat bagi saudara-saudara kita umat muslim yang ada di tanah minahasa.
“Semoga dimomen hari raya lebaran ketupat ini membawah berkah bagi kita semua, atas nama pemerintah kabupaten minahasa, bersama keluarga Kumendong – Onibala mengucapkan selamat merayakan hari raya lebaran ketupat tahun 2024, mohon maaf lahir dan batin,” ucap Kumendong.(HerS)
Kultur
Meriah, Paskah WilKas Diapresiasi Walikota Caroll Senduk


TOMOHON, Inforakyatnews.com – Penatua (Pnt) Caroll J,A Senduk menghadiri Kegiatan Pawai Paskah Wilayah Kakaskasen yang dilaksanakan di GMIM Kakaskasen Eben Haezer. Jumat, (12/04/2024).
Kegiatan diawali dengan ibadah dan dikhadimi Pdt. Julien Sagay Karwur Sth. selaku Ketua BPMW Kakaskasen dan Ketua BPMJ Kakaskasen PNIEL.

kesempatan tersebut Pnt Caroll Senduk selaku Walikota Tomohon mengajak, Melalui kegiatan pawai Paskah ini, marilah kita menjalin kebersamaan dan persaudaraan.
“Kegiatan ini bukan menunjukan siapa yang terbaik melainkan bagaimana kita sebagai umat Tuhan boleh meneladani akan pengorbanan Kristus dan boleh menjadi teladan bagi orang lain. Oleh karena itu, perkenankan saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh jemaat di wilayah Kakaskasen bahkan panitia yang telah mencetuskan berbagai kegiatan positif guna membangun kebersamaan seluruh Jemaat.” ungkap Walikot Coroll Senduk.

Walikota Carol juga beharap, dengan peristiwa kebangkitan Kristus mampu memberikan sukacita dan memberikan pengharapan untuk kehidupan kekal serta keselamatan kita selaku umat Kristiani.
Usai ibadah dilanjutkan dengan pembukaan kegiatan kebersamaan Pelsus di tandai dengan pelepasan balon gas dan penabuhan Tambor tanda buka oleh Walikota bersama BPMW Kakaskasen.
Pawai dengan berbagai ornamen Paskah, narasi dan gambar-gambar yang diambil dari lembaran Alkitab, diikuti oleh Jemaat se-Wilayah Kakaskasen, pawai start dan finish di GMIM Kakaskasen Eben Heazer dan jarak tempuh pawai ialah tiga kilometer.
Turut Hadir, Wakil Ketua DPRD Kota Tomohon Pnt. Drs. Johnny Runtuwene, DEA., Ketua TP-PKK Kota Tomohon Pnt, drg. Jeand’arc Senduk- Karundeng, Badan Pekerja Majelis Wilayah Kakaskasen, Κetua BPMJ Kakaskasen Eben Haezer Pdt. Sophia Goni Rau, M.Teol., Para Pendeta, Guru Agama, Pelayan Khusus dan Jemaat Se-Wilayah Kakaskasen.(wan/***)
Parlementaria3 hari agoDPRD Tomohon Terima Aspirasi Warga Kayawu Soal KKMP di Lapangan Wantol, Hasilkan 4 Kesepakatan
Uncategorized2 hari agoWawali Sendy Rumajar Ikut Bimtek ASWAKADA 2026, Perkuat Sinergitas Kepala Daerah
Parlementaria3 hari agoSinergi Eksekutif-Legislatif Terjaga, DPRD Tomohon Dorong Pemkot Tindak Lanjuti Rekomendasi LKPJ







