Menu

Mode Gelap
KPK Buka Kelas Pemuda Anti Korupsi Tahun 2022 di Sulut Hadirkan DJ Ribka, HUT ke-8 “Good Day Club” Bakal Spektakuler GMNI Cabang Manggarai Demo Tolak Kenaikkan Harga BBM Kata BMKG Soal Cuaca Tak Menentu Saat ini Pemda Manggarai Himbau Masyarakat Waspada Wabah PMK

Daerah · 30 Nov 2021 20:30 WITA ·

Air Terjun, Gua Bawah Tanah Dan Kolam Alam, Suguhan Indah Desa Loha


 Destinasi Wisata Desa Loha, foto : inforakyatnews.com/paulus Perbesar

Destinasi Wisata Desa Loha, foto : inforakyatnews.com/paulus

inforakyatnews.com – Jika anda adalah pencinta alam ataupun anda hanya sekedar ingin melepas kepenatan dari padatnya kesibukan akibat tuntutan pekerjaan anda maka Desa Loha, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat adalah salah satu tempat yang paling direkomendasikan untuk dikunjungi.

Di desa ini akan disuguhkan berbagai macam keindahan alam yang dijamin dapat menyegarkan kembali pikiran bahkan bisa membuat pengunjung betah dan tidak akan bosan untuk menikmatinya.

Berwisata ke Desa Loha, akan dapat menambah pengalaman petualangan yang sulit untuk dilupakan bagi para pengunjung, sebab beberapa objek wisata alam nan eksotik, seperti Air Terjun, Gua Alam atau terowongan bawah tanah dan juga Kolam Alam, menyuguhkan keindahan serta memiliki kisah sejarah yang unik dan sangat menarik untuk disimak.

Desa Loha merupakan salah satu desa di Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTT). Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Letaknya berada tepat di jalur utama Labuan Bajo – Pacar – Golo Welu.

Berjarak kurang lebih 54 kilo meter (km) ke arah utara dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Desa Loha dapat ditempuh melalui perjalanan darat dengan waktu tempuh mencapai 2 jam menggunakan kendaraan roda empat.

Jika menggunakan kendaraan roda dua atau sepeda motor maka jarak tempuh bisa kurang dari dua jam atau lebih cepat jika di bandingkan dengan menggunakan roda empat.

Rasa penasaran dan tidak sabar akan semakin kuat dirasakan untuk segera menuju tiga objek wisata alam di Desa Loha tersebut ketika sudah tiba di Loha. Keluar dari jalur utama Labuan Bajo – Pacar – Golo Welu, masuk ke arah selatan, tempat di mana objek wisata alam itu berada.

Dari jalur utama, ditempuh sejauh satu kilo meter (1 Km) dengan waktu tempuh 15 hingga 20 menit tetapi itu baru sampai di tempat parkiran kendaraan.

Sunsa Namo

Sunsa Namo menjadi spot pembuka yang disuguhkan. Dari area parkir ke Sunsa Namo, ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit.

Sebelum sampai ke Sunsa Namo terdapat tempat cek poin yang sedikit memberikan petunjuk tentang alur dan estimasi waktu dan jarak tempuh dari objek satu ke objek lainnya.

Untuk sampai ke Sunsa Namo, harus melewati jalan yang cukup menantang karena kondisi jalan yang cukup terjal.

Kadang membuat kaki gemetar lantaran harus turun melalui anak tangga yang dibuat seadanya dari kayu oleh masyarakat.

Namun jangan kuatir, perjuangan tidak sia-sia, Sunsa Namo akan membayarnya dengan keindahan dan keunikan yang sangat memikat hati.

Percikan air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 20 meter dari bibir tebing batu, memperlihatkan keindahan luar biasa, ditambah percikan air yang terlihat menyerupai kabut saat angin menghempasnya.

Air terjun Sunsa Namo, Foto : inforakyatnews/paulus

Tidak hanya memanjakan mata, pengunjung juga bisa merasakan sensasi sentuhan air terjun Sunsa Namo dengan berdiri di atas bebatuan besar yang berada di bawahnya, namun tetap hati-hati, sebab batu yang basah menyebabkan licin, bisa membuat kita terkilir.

Selain air terjunnya, hamparan tebing batu dengan permukaan di atasnya yang sedikit agak condong ke luar, membuat area di bawahnya terlihat layaknya sebuah gua dengan bentangan panjang diperkirakan mencapai 10 meter, sehingga sangat bagus untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan air yang jatuh.

Tepat di bawah tempat air jatuh, terdapat sebuah kolam sehingga air yang jatuh dapat tertampung sebelum akhirnya mengalir melalui sungai.

Sejarah Sunsa Namo

Menurut cerita sejarah yang dimiliki Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Loha, Sunsa Namo adalah tempat manusia jaman dahulu berburu binatang liar maupun hewan air.

Disebutkan, aktivitas perburuan binatang liar secara tradisional pada jaman dulu itu menggunakan anjing pemburu sebagai salah satu media bantu untuk berburu.

Berburu dengan cara ini disebut masyarakat Manggarai dengan sebutan ‘Bang’.

Sementara jika berburu dengan menangkap hewan air seperti ikan, belut, udang dan sejenisnya disebut ‘wonok’. Disebutkan bahwa Sunsa Namo kala itu menjadi salah satu tempat wonok.

Kegiatan bang dan wonok adalah cara manusia di jamannya untuk mempertahankan hidup.

Nua Waka

Bergeser sekitar 100 meter dari Sunsa Namo, terdapat sebuah gua alam atau terowongan bawah tanah yang oleh masyarakat setempat menyebutnya Nua Waka.

Nua Waka adalah lubang bawah tanah yang menurut catatan Pokdarwis Desa Loha, tingginya 4 m, lebarnya 3 m dan panjangnya sejauh 1000m2.

Di permukaan Nua Waka tampak seperti sebuah lubang yang dibuat dalam sebuah batu raksasa. Hal itu terlihat dimana langit-langit dinding dan bagian bawahnya semua adalah batu yang tidak terpisah antara bagian yang satu dan bagian lainnya.

Pada sebagian permukaan Nua Waka tampak sebuah batu besar menutupi separuh pintu masuk, sementara pada sebagian lainnya teraliri air yang mengalir dari terowongan Nua Waka sehingga sedikit menyulitkan orang untuk masuk ke dalam.

Terowongan bawah tana Nuwa Waka, foto : inforakyatnews/paulus

Namun ketika berhasil masuk, pengunjung akan merasakan suasana menyenangkan namun juga membuat jantung berdebar sebab sejauh kurang lebih 7-10 m dari permukaan gua, tampak gelap sehingga bunyi semburan air yang mengalir serasa menakutkan tetapi Nua Waka adalah gua alam yang unik dan sangat indah.

Sejarah Nua Waka

Di balik keindahan dan keunikannya, Nua Waka memiliki sejarah yang sangat penting.

Dari sejarah singkat yang dimiliki Pokdarwis Desa Loha menyebut Nua Waka merupakan benteng pertkahanan para tokoh perang pada zaman dahulu. Masa di mana perang perebutan batas wilayah kala itu masih banyak terjadi di wilayah Nusantara semasa sistem pemerintahan kerajaan.

Disebutkan bahwa Nua Waka dipakai sebagai benteng untuk mempertahankan batas wilayah. Nua Waka juga dalam bahasa lokal (Manggarai), dikenal dengan sebutan ‘lami rahit’.

Tiwu Roh

Dari Nua Waka menuju kolam alam. Tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah Kolam Alam. Oleh masyarakat setempat menyebutnya Tiwu Roh.

Kolam alam Tiwu Roh, foto : inforakyatnews/paulus

Tiwu Roh merupakan salah satu objek wisata Desa Loha yang memberikan nuansa berbeda.

Di sini pengunjung bisa merasakan sensasi kesegaran air tawar yang bersih dengan berenang sambil sesekali melompat dari antara bebatuan di sekitar yang ketinggiannya hanya mencapai dua hingga tiga meter.

Sejarah Tiwu Roh

Di balik keindahan itu, Tiwu Roh juga ternyata memiliki sejarah tersendiri.

Konon ceritanya, Tiwu Roh memiliki kekuatan gaib dan dijaga oleh penunggu atau mahkluk astral tak kasat mata.

Dari namanya memang seakan membenarkan hal tersebut, sebab dalam bahasa setempat (bahasa Manggarai,-red), Tiwu adalah kolam (alam) dengan ukuran kedalaman tertentu, sedangkan Roh adalah kekuatan gaib.

Oleh orang orang jaman dahulu, Tiwu Roh dipercayakan sebagai tempat yang memiliki kekuatan tersendiri terutama untuk melanggengkan perjodohan atau percintaan, sehingga di zaman itu pasangan kekasih memanfaatkan Tiwu Roh untuk meminta agar hubungan mereka dijaga dan tetap langgeng.

Di zaman itu, Tiwu Roh digunakan para pemuda-pemudi untuk berkeramas rambut, dalam bahasa Manggarai disebut ‘Rono’.

Namun keramas di zaman itu bukan menggunakan shampo tapi menggunakan potongan isi kelapa yang sudah tua dan dikeringkan lalu dibakar kemudian dikunyah dan disimpan di tempat yang biasanya menggunakan tempurung kelapa. Kelapa kunyahan itu dikeramas di rambut.

Namun rono itu juga secara interprestasi masyarakat setempat sebagai bertemunya pasangan kekasih (konteks positif).

Meski begitu, Tiwu Roh yang dipercayakan sebagai tempat permohonan melanggengkan perjodohan, tidak hanya oleh masyarakat jaman dahulu. Masyarakat Desa Loha zaman sekarang juga ternyata masih mempercayai itu meskipun tidak melakukan permohonan seperti yang dilakukan pada masa yang lalu.

Sunsa Namo, Nua Waka dan Tiwu Roh adalah tiga objek wisata di Desa Loha yang sangat disayangkan kalau tidak dikunjungi.

Selain tiga objek tersebut desa ini juga memiliki objek wisata lainnya di antaranya Tiwu Ndeleng dan Roang Niki.

Selain objek wisata, Desa Loha juga merupakan kawasan budi daya tanaman vanili berkualitas.

Kehidupan sosial masyarakat Desa Loha sangat baik. Prinsip menjunjung tinggi budaya adalah faktor utama terciptanya kerukunan antar masyarakat.

Kondisi ini sangat mendukung potensi sumber daya alam untuk diperhatikan pemerintah.

Desa Loha telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sebagai salah satu desa wisata. Pemerintah Desa Loha telah melakukan berbagai langkah untuk pengelolaan wisata di desa tersebut dengan membentuk Pokdarwis. (*)

 

Penulis: Paulus Nabang

 

Artikel ini telah dibaca 263 kali

badge-check

Tim

Baca Lainnya

KPK Buka Kelas Pemuda Anti Korupsi Tahun 2022 di Sulut

26 September 2022 - 17:30 WITA

Surya Paloh Beberkan Alasan Rekomendasi Tiga Capres dari Eksternal Partai

20 September 2022 - 17:24 WITA

Hadirkan DJ Ribka, HUT ke-8 “Good Day Club” Bakal Spektakuler

16 September 2022 - 12:44 WITA

FKM Dorong Pemulihan Ekonomi Bagi Pelaku Usaha

2 Agustus 2022 - 01:03 WITA

Gubernur Jambi Bagikan Bendera Merah Putih Kepada Pengendara di Jalan Raya

2 Agustus 2022 - 00:53 WITA

Gubernur Jambi Berharap Tiap Tahun UNJA Wisudawan Ribuan Sarjana

28 Juli 2022 - 22:05 WITA

Trending di Daerah