Connect with us

Pendidikan

SMK St Familia Tomohon Luluskan 160 Siswa Berprestasi

Published

on

InfoRakyatNews.com, Tomohon – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) st. Familia Tomohon, hari ini Rabu (09/06/2021) menggelar acara penamatan bagi siswa/siswi kelulusan angkatan tahun 2021, yang dilaksanakan di Panti Samadi Tomohon, Kelurahan Kolongan.

Kepala Sekola SMK St. Familia Tomohon, Sr. Tetty Sabaria Sitorus, SJMJ, S.si, Mpd menjelaskan bahwa kelulusan siswa/siswi pada angkatan tahun 2021 ini, lulus 100 persen.

“Ada 160 siswa pada tamatan tahun 2021 ini, dari 4 jurusan,” ucap Kepsek Sr. Tetty Sabaria Sitorus usai acara penamatan tersebut.

Meski banyak kendala dalam kondisi pandemi saat ini namun menurut Kepsek Sitorus, Sekola terus berupaya mendampingi siswa/siswi sehingga mereka bisa mengikuti semua program-program pembelajaran yang menentukan kelulusan mereka saat ini.

“Semua siswa lulus, tidak ada yang tidak lulus dan tidak ada yang tidak mengikuti semua program, jadi dari semua kelulusan ini, semuanya mengikuti segala tahapan-tahapan ujian yang diberikan,” ujar kepsek

Dia mengungkapkan bahwa semua kelulusan siswa/siswi ini merupakan siswa berprestasi sehingga semua siswa mendapat penghargaan.

“Mereka melalui ujian semester, ujian berstandar nasional, UKK, dan mereka semua mendapat sertifikat penghargaan yang berlogo garuda, karena mereka semua mengikuti program BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) yang sudah di akui oleh semua dunia industri berstandart internasional,” ungkap Kepsek St.Familia ini

Dia berharap semua siswa agar terus berinovasi dan berkreasi dari kopetensi yang mereka miliki dari sini.

“Harapan kita kepada siswa tentunya kiranya mengembangkan kopetensi yang sudah mereka miliki didunia kerja maupun bila akan melanjutkan ke perguruan tinggi,” kata Kepsek

“tetap berinovasi, berkreatif, dan terpenting karakter, atitude dan integritas yang terus dikembangkan.” Pungkasnya.

Sementara itu, apresiasi orang tua siswa yang lulus kepada SMK St Familia ini merasa sangat bangga anak mereka lulusan dari SMK St Familia.

“Saya sebagai orang tua murid sangat bangga anak saya lulusan dari SMK st Familia,” ucap Henri Raranta, Orang tua dari salah satu siswa kelulusan SMK St Familia tahun 2021

Henri berharap SMK St Familia terus berinovasi sehingga bisa menciptakan icon kopetensi lebih tinggi untuk menarik minat dunia kerja bagi siswa lulusan

“Semoga SMK St Familia terus maju berkembang dan terus menciptakan SDM berkualitas, namun sejauh ini saya lihat lulusan SMK St Familia siap kerja, dan saya bangga anak saya lulusan SMK ini,” tandasnya. (*/jud)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama

Nasib Naas MPAB ARANNAKA UNSRIT: Dulu Garda Terdepan Selamatkan Kampus, Kini Berubah Jadi “Anak Tiri” Di Kampus Sendiri

Published

on

Dulu Garda Terdepan Kini “Anak Tiri” Dikampus Sendiri

Inforakyatnews.com – TOMOHON, 24 MEI 2026 – Sebuah kisah ironi dan kekecewaan mendalam menyelimuti perjalanan panjang salah satu organisasi mahasiswa paling bersejarah di lingkungan Universitas Sariputra Indonesia Tomohon (UNSRIT), yaitu Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Bebas Arannaka. Organisasi yang namanya begitu harum, gagah, dan penuh pengorbanan ini kini bernasib naas: dulunya menjadi kekuatan utama yang berjuang mati-matian menyelamatkan keberlangsungan kampus, namun hari ini justru diperlakukan layaknya “anak tiri”, terpinggirkan, dan seolah dilupakan oleh almamaternya sendiri.

Mpab Arannaka bukan sekadar kelompok kegiatan mahasiswa biasa. Sejak tahun-tahun awal berdirinya, organisasi ini telah menjadi salah satu pilar kokoh penyokong keberadaan universitas. Sejarah panjang mencatat dengan jelas, di masa-masa kritis ketika kampus menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari masalah stabilitas, keberlangsungan operasional, hingga ancaman yang mengganggu nama baik institusi, kader-kader Arannaka lah yang turun ke lapangan. Dengan semangat, disiplin, dan pengorbanan tanpa pamrih, mereka berjuang habis-habisan, mengerahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran, dan jaringan demi memulihkan kondisi, menjaga nama baik universitas, serta memastikan proses pendidikan dan keberlangsungan UNSRIT tetap berdiri tegak dan berjalan lancar.

Darah, keringat, dan waktu yang dikorbankan para pendiri dan anggota terdahulu menjadi pondasi tak ternilai harganya. Berkat kerja keras mereka, UNSRIT mampu melewati masa-masa sulit dan tumbuh menjadi perguruan tinggi yang kita kenal sekarang. Nama “MPAB Arannaka” pun menjadi kebanggaan tersendiri di Sulawesi Utara, dikenal luas sebagai organisasi pencinta alam yang tidak hanya tangguh di medan, tetapi juga memiliki integritas tinggi, jiwa sosial yang kuat, dan kepedulian mendalam terhadap lingkungan serta dinamika kampus.

Namun, ironi semakin terasa menyakitkan belakangan ini. Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya UNSRIT, perlakuan serta perhatian pihak pimpinan kampus terhadap organisasi yang berjasa besar ini justru perlahan memudar, bahkan hilang. Dari yang dulunya menjadi kebanggaan kampus, mitra strategis, dan organisasi yang selalu didengar suaranya, kini Arannaka seolah tersisih, tidak diakui keberadaannya secara layak, dan kesulitan mendapatkan dukungan fasilitas, sarana, maupun perhatian kebijakan yang seharusnya menjadi hak mutlak organisasi kemahasiswaan besar dan bersejarah.

“Rasanya sangat miris, menyakitkan, dan sulit kami terima. Dulu, saat kampus ini sedang sulit, saat keberlangsungannya terancam, organisasi inilah yang turun tangan, berjuang, dan memastikan UNSRIT tetap ada. Kami menyelamatkan kampus ini. Tapi sekarang, saat kampus sudah besar, sudah maju, dan sudah mapan, kami justru diperlakukan seperti orang asing, seperti anak tiri yang tidak diinginkan. Tidak ada perhatian, tidak ada dukungan, bahkan ruang gerak kami seolah dibatasi dan dipersulit,” ungkap salah satu Alumni pengurus inti Mpab Arannaka dengan nada kecewa yang mendalam.

Keluhan yang disampaikan para pengurus dan anggota sangat beralasan dan nyata. Mulai dari ketiadaan fasilitas pendukung kegiatan yang layak, minimnya alokasi sarana dan prasarana, tidak adanya ruang sekretariat yang memadai, hingga ketiadaan apresiasi nyata terhadap kontribusi besar organisasi dalam menjaga lingkungan, ketertiban, dan nama baik UNSRIT. Padahal, hingga detik ini, Mpab Arannaka masih konsisten dan aktif menjalankan berbagai program strategis dan bermanfaat: mulai dari pelestarian lingkungan hidup, penanggulangan bencana alam, edukasi konservasi alam, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga menjaga citra positif universitas di berbagai kegiatan antar-perguruan tinggi maupun masyarakat luas dan aktif mendukung program pemerintah dalam bidang lingkungan hidup.

Para alumni dan kader yang masih aktif sangat menyayangkan kondisi ini. Mereka menilai, melupakan jasa dan sejarah perjuangan Arannaka sama artinya dengan melupakan sejarah berdirinya dan perjalanan sulit UNSRIT sendiri.

“Kami tidak menuntut kemewahan, kami tidak minta fasilitas berlebih. Kami hanya menuntut keadilan, penghargaan yang wajar, dan perlakuan setimpal dengan sejarah serta jasa besar yang sudah kami berikan demi almamater ini. Kami ingin terus berkarya, terus mengabdi, terus membawa nama baik UNSRIT ke mana pun kami pergi. Tapi bagaimana mungkin kami bisa berbuat maksimal jika kami diperlakukan tidak lebih baik dari organisasi yang baru berdiri, bahkan jauh lebih buruk lagi?” tambah perwakilan organisasi tersebut.

Kisah nasib naas Mpab Arannaka ini kini menjadi sorotan tajam di kalangan mahasiswa, alumni, maupun masyarakat Kota Tomohon dan sekitarnya. Banyak pihak berharap besar agar pimpinan Universitas Sariputra Indonesia Tomohon segera membuka mata dan hati, kembali menengok sejarah panjang perjuangan, serta memberikan perlakuan yang adil, layak, dan terhormat kepada organisasi ini.

Karena bagaimanapun juga, membiarkan organisasi sebesar dan sebersejarah Arannaka terpinggirkan dan terabaikan, adalah sebuah ketidakadilan yang mencoreng sejarah dan mengabaikan salah satu pilar utama yang pernah menyelamatkan keberlangsungan kampus kebanggaan masyarakat Tomohon ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau penjelasan resmi dari pihak pimpinan Universitas Sariputra Indonesia Tomohon terkait keluhan dan kekecewaan yang disampaikan oleh Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Bebas Arannaka.

Continue Reading

Pendidikan

Sepuluh Guru Besar Dikukuhkan Unsrat, Rektor: “Ini Aset Berharga bagi Daerah”

Published

on

Manado, inforakyatnews.com – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) mengukuhkan 10 guru besar dari lima fakultas dalam satu sidang senat terbuka di Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, Kamis (7/5/2025).

Rektor Unsrat, Prof. Dr. Ir. Oktovian B.A. Sompie, M.Eng., IPU., ASEAN Eng., memimpin langsung prosesi pengukuhan yang menandai penguatan kapasitas akademik perguruan tinggi tersebut.

Kesepuluh profesor yang dikukuhkan berasal dari Fakultas Teknik (Prof. Steenie E. Wallah dan Prof. Tiny Mananoma), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Prof. Dolfie P. Pandara dan Prof. Henny L. Rampe), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Prof. Joy E. Tulung), Fakultas Pertanian (Prof. Dedie Tooy, Prof. Dantje Tarore, Prof. Betsy A. N. Pinaria, dan Prof. Leonardus R. Rengkung), serta Fakultas Hukum (Prof. Cornelis D. Massie).

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa gelar akademik tertinggi ini bukan sekadar kebanggaan individu, melainkan aset berharga bagi daerah. “Pengukuhan Guru Besar hari ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi kebanggaan keluarga dan Universitas Sam Ratulangi, serta masyarakat Sulawesi Utara,” ujarnya.

Mengutip Ki Hadjar Dewantara, Rektor mengingatkan bahwa pendidikan adalah tempat bertumbuhnya budi pekerti dan pikiran. Seorang guru besar, menurutnya, bukan hanya ilmuwan yang bergelut dengan data, tetapi harus tampil sebagai penuntun dan teladan bagi generasi muda. Ia berpesan bahwa prosesi ini bukan garis finis, melainkan gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar terhadap masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Utara yang diwakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sulut, Jani Lukas, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa gelar guru besar menyimpan harapan agar para profesor mampu menjadi pelopor pembangunan ilmu pengetahuan, pendidik yang membentuk generasi unggul, sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat.

“Dibalik gelar tersebut tersimpan harapan, agar para guru besar mampu menjadi pelopor dalam pembangunan ilmu pengetahuan, pendidik yang membentuk generasi unggul, sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat,” ujar Jani Lukas.

Gubernur berharap kontribusi para guru besar dapat memperkuat potensi daerah, menggali keunggulan lokal, serta mendorong lahirnya inovasi berbasis kearifan lokal. “Melalui kontribusi pemikiran, riset, dan inovasi dari para guru besar, kita optimis dapat mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor. Bersama-sama kita melangkah membangun daerah menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Continue Reading

Berita Utama

Pilkada, Danau Tondano, Mapalus, dan ST4 Hentar Tinangon Raih Gelar Doktor

Published

on

Infirakyatnews.com – Anggota KPU Sulawesi Utara, Meidy Yafeth Tinangon sukses melalui tahap akhir studi pada program doktor ilmu linkungan multidisipliner Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.

Pada Ujian Terbuka Sidang Promosi, Selasa lalu (21/4), Tinangon berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan sidang penguji yang dipimpin Direktur Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Moh. Khusaini, S.E.,M.Si.,M.A. selaku ketua sidang.

Dalam disertasinya berjudul “Pengelolaan Danau Tondano sebagai Materi Kampanye dan Implementasinya dalam Kebijakan Pasangan Calon Terpilih Pilkada Minahasa Tahun 2018”, Tinangon mampu berargumentasi menghubungkan pilkada, Danau Tondano, mapalus, dan Si Tou Timou Tumou Tou (ST4).

Dalam paparannya Tinangon menyampaikan bahwa pilkada bukan hanya sekadar arena politik elektoral, tetapi juga arena perencanaan kebijakan.

“Pada saat pencalonan dan kampanye pilkada, setiap pasangan calon wajib menyampaikan visi, misi, dan program yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), yang kemudian menjadi substansi materi kampanye,” ungkap Tinangon, yang juga mantan Ketua KPU Minahasa.

Meidy Yafeth Tinangon

“Visi, misi, dan program pasangan calon terpilih termasuk yang berhubungan dengan pengelolaan Danau Tondano nantinya akan diadopsi ke dalam perda tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD sebelum diimplementasikan,” lanjut Tinangon.

Fokus studi Tinangon dalam disertasinya adalah pada setiap tahapan kebijakan publik pengelolaan Danau Tondano, mulai dari penetapan agenda dan formulasi kebijakan pada visi, misi, dan program pasangan calon peserta pilkada, adopsi, implementasi dan evaluasi kebijakan pascapilkada, serta rekomendasi desain kebijakan pengelolaan Danau Tondano sebagai kebaruan (novelty) penelitian.

Pada bagian akhir disertasinya, Tinangon berhasil merumuskan desain kebijakan komprehensif yang menggabungkan berbagai konsep pengelolaan ekosistem danau dengan kultur mapalus dan filosofi Si Tou Timou Tumou Tou. Desain kebijakan tersebut diberi nama Mapalus Ekologi dengan Insentif dan Disinsentif yang Tumou Tou dan Danau Tondano (MEIDY YT2DT) atau Kolaborasi Ekologi dengan Insentif dan Disinsentif yang Menghidupkan Manusia dan Danau Tondano.

Adapun promotor studi S3 Tinangon adalah Prof Amib Setyo Leksono, dengan Ko-Promotor I, Prof Gatot Ciptadi, dan Ko-Promotor II, Dr. Anthon Efani. Sedangkan sebagai penguji masing-masing Bunga Hidayati, S.E., M.E., Ph.D; Fadillah Putra, S.Sos.,M.PAff.,Ph.D; Prof. Setyo Tri Wahyudi, SE.,M.Ec.,Ph.D; dan Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T. (***)

Continue Reading

Trending